Berteman dengan Konflik
Manusia dekat dengan konflik. Bahkan sejak lahir ke dunia, keluar dari rahim seorang ibu, ia sudah berkonflik. Ia berkonflik dengan keadaan. Ketika berada di dalam rahim, hidup manusia sangatlah nyaman. Ia mendapat tempat tinggal secara gratis dan asupan nutrisi yang terjamin. Begitu ia keluar dari rahim, reaksi pertama adalah menangis. Menangis karena berjumpa dengan keadaan yang baru, keadaan yang membuat ia tidak nyaman. Maka, sebenarnya konflik dekat dengan kata keluar. Sejak kita bangun dari tidur, kita siap untuk berkonflik. Sejak kita membuka pintu kamar kita dan melangkah keluar kamar, kita sudah siap untuk berkonflik. Kita akan bertemu dengan berbagai macam keberagaman, keadaan, karakter, pendapat, kepentingan, budaya, hingga nilai. Sejatinya, hidup adalah keberanian untuk memasuki setiap kemungkinan konflik. Apakah Tuhan yang menjadi manusia, kemudian hidup bersama-sama dengan manusia, hingg...