Berteman dengan Konflik

    


    Manusia dekat dengan konflik. Bahkan sejak lahir ke dunia, keluar dari rahim seorang ibu, ia sudah berkonflik. Ia berkonflik dengan keadaan. Ketika berada di dalam rahim, hidup manusia sangatlah nyaman. Ia mendapat tempat tinggal secara gratis dan asupan nutrisi yang terjamin. Begitu ia keluar dari rahim, reaksi pertama adalah menangis. Menangis karena berjumpa dengan keadaan yang baru, keadaan yang membuat ia tidak nyaman.

     Maka, sebenarnya konflik dekat dengan kata keluar. Sejak kita bangun dari tidur, kita siap untuk berkonflik. Sejak kita membuka pintu kamar kita dan melangkah keluar kamar, kita sudah siap untuk berkonflik. Kita akan bertemu dengan berbagai macam keberagaman, keadaan, karakter, pendapat, kepentingan, budaya, hingga nilai. Sejatinya, hidup adalah keberanian untuk memasuki setiap kemungkinan konflik.

    Apakah Tuhan yang menjadi manusia, kemudian hidup bersama-sama dengan manusia, hingga menjadi bagian dari sejarah dunia ini juga mengalami konflik? Kalau kita membaca Injil secara keseluruhan, hidup Yesus selalu diwarnai dengan konflik. Konflik muncul karena Yesus merubah suatu tatanan yang sudah mapan atau stabil, misal, tentang hari Sabat (menyembuhkan orang di hari Sabat), tentang hukum Taurat, dan kritikan atas orang Farisi. 

    Dalam terang iman Kristiani, kita bahkan dapat melihat bahwa inkarnasi sendiri adalah tindakan "keluar". Allah keluar dari "kemuliaan-Nya", menjadi manusia, tinggal di tengah manusia (lih. Yohanes 1:14; Filipi 2:6–8). Ketika Allah keluar menuju dunia, Ia tidak keluar untuk mencari musuh. Ia keluar untuk mengasihi. Namun kasih yang sejati bertemu dengan dunia yang terluka oleh dosa, sehingga konflik tidak terhindarkan.

    Barangkali salib adalah hasil dari konflik. Mungkin lebih tepatnya adalah konflik yang mendamaikan. Yesus berkonflik dengan manusia-manusia yang tidak menyukainya dengan berbagai macam alasan dan tuduhan. Kalau demikian, apakah salib adalah bentuk kesengajaan Yesus agar bisa berkonflik dengan manusia? Bukan soal sengaja atau tidak, mungkin Yesus sengaja taat pada kehendak Bapa, tetapi Ia tidak sengaja menciptakan konflik. Maka, sebenarnya salib ingin mengatakan bahwa manusia memang berkonflik dengan Tuhan. Antara kasih Allah dengan dosa manusia, antara Kerajaan Allah dan Kerajaan dunia, antara kebenaran dan kebohongan, antara kehidupan dan kematian.

    Konflik bukanlah sebuah takdir, melainkan sebuah pilihan yang harus diterima seorang manusia. Jika enggan berkonflik, jangan menganggap dirimu sebagai manusia seutuhnya. Konflik adalah konsekuensi dari setiap pilihan. Konflik dapat dilawan dengan rekonsiliasi. Layaknya manusia yang berekonsiliasi dengan Tuhan karena dosa-dosa yang telah dibuatnya. Layaknya manusia yang berekonsiliasi dengan sesamanya karena berbagai macam perbedaan yang ada. Semoga pada akhirnya, kita mampu menerima setiap konflik sebagai bagian dari perjalanan hidup kita, dan menemukan Tuhan dalam setiap pengalaman konflik dan membawa pada damai.

Pax in Christo




Komentar

Postingan populer dari blog ini

'' BKTH ''

Dalam Setiap Denyut Darahku, Ada Doa Papa dan Mama

Finding My Rebecca