Dalam Setiap Denyut Darahku, Ada Doa Papa dan Mama
Tentu... aku sering merenung tentang siapa diriku, dan dari mana aku berasal. Dalam setiap langkah panggilan imamat yang kutapaki, aku menyadari bahwa darah yang mengalir dalam diriku bukan sekadar warisan biologis saja... melainkan juga warisan nilai, budaya, dan spiritualitas yang membentuk diriku hingga saat ini. Di dalam diriku mengalir dua darah : darah Jawa dari Papa, dan darah Toraja dari Mama. Dua kebudayaan besar yang berbeda, namun berpadu indah dalam diriku seperti dua aliran sungai yang bertemu dan menyatu di dalam satu muara panggilan Tuhan.
Terima kasih Papa, atas warisan darah Jawa yang mengajarkanku untuk ngajeni, menghormati siapa pun tanpa memandang latar belakangnya. Dari darah Jawa aku belajar tentang keteduhan hati, kesabaran, dan kehalusan budi. Papa menanamkan padaku arti penting tata krama dan keselarasan, bahwa dalam hidup, keseimbangan antara kata dan tindakan, antara lahir dan batin, adalah cermin kedewasaan rohani. Darah Jawa membentukku menjadi pribadi yang tenang, tidak mudah meledak dalam emosi, dan mampu menimbang setiap langkah dengan hati-hati. Dalam perjalananku menuju imamat, aku menyadari bahwa semua itu adalah anugerah besar karena seorang imam dipanggil bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengarkan, bukan hanya untuk bertindak, tetapi juga untuk menimbang dengan hati nurani yang jernih.
Terima kasih Mama, atas warisan darah Toraja yang mengajarkanku keteguhan hati dan keberanian untuk berdiri tegak di tengah badai. Dari darah Toraja aku belajar tentang kehidupan yang penuh semangat dan kebanggaan terhadap akar budaya sendiri. Mama mengajarkanku arti penting gotong royong, kesetiaan keluarga, dan penghormatan kepada leluhur. Di dalam darah Toraja mengalir semangat hidup yang pantang menyerah, daya juang yang tinggi, serta keberanian untuk menghadapi kenyataan hidup dengan kepala tegak. Semua itu kini menjadi bagian dari jiwaku sebagai calon imam karena panggilan Tuhan tidak selalu berjalan di jalan yang mulus, tetapi menuntut keberanian untuk tetap setia meski di tengah tantangan dan kesulitan.
Dua warisan ini, Jawa dan Toraja, berpadu di dalam diriku menjadi harmoni nilai yang kaya. Dari Jawa aku belajar diam dalam doa, dari Toraja aku belajar bergerak dalam karya. Dari Jawa aku mengenal kedalaman batin, dari Toraja aku mewarisi kekuatan tindakan. Keduanya membentuk wajah panggilan imamatku: seorang gembala yang lembut namun tegas, sabar namun berani, pendengar yang baik namun juga pemimpin yang tegas dalam cinta.
Ketika aku berdiri di hadapan altar dan mengucap doa, aku tahu bahwa doa itu tidak hanya keluar dari bibir seorang calon imam, tetapi juga dari hati seorang anak Jawa dan Toraja. Hati yang dibentuk oleh kasih orang tua, oleh tanah dan budaya yang menanamkan nilai-nilai luhur kehidupan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah menenun dua tradisi indah itu dalam diriku, sebab melalui keduanya, aku belajar menjadi manusia yang utuh, yang mengenal dirinya, bangsanya, dan Allahnya.
Dalam diam doa dan semangat pelayanan, aku membawa keduanya bersatu: kelembutan Jawa dan keteguhan Toraja, agar dalam panggilan imamatku kelak, aku dapat menjadi wajah kasih Tuhan yang merangkul dan menguatkan semua orang dengan hati seorang anak yang tahu dari mana ia berasal, dan untuk siapa ia hidup.
Komentar
Posting Komentar