''Ketika Tuhan Masuk ke Timeline-ku"

Panggilan???


Ada adagium yang berbunyi, ‘’Hidup itu hanya sekali’’. Dalam hidup pula seringkali ada banyak pilihan. Mau sekolah pun memilih, mau makan pun juga ada banyak pilihan, mau cari pasangan juga memilih, termasuk memilih pilihan hidup. Gereja Katolik mengenal pilihan hidup ini sebagai panggilan, baik itu panggilan berkeluarga/perkawinan maupun panggilan imamat. Salah satu panggilan hidup yang ditawarkan oleh Gereja adalah panggilan hidup imamat. Pertanyaannya adalah kenapa sih kok mau jadi romo? Pertanyaan yang sering sekali ditanyakan oleh banyak orang dari berbagai usia, entah itu anak2 hingga orang tua.

Saya membuka sharing saya dengan sebuah ayat, ‘’Ia yang memulai pekerjaan baik diantara kamu’’ (Flp 1:6). Sebenarnya, keinginan menjadi imam tidak pernah terpikirkan dalam benak saya. Hingga suatu ketika, saya mengikuti rekoleksi yang diadakan oleh sekolah saya. Waktu itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Dalam rekoleksi tersebut, salah satu sub-temanya adalah panggilan hidup. Kebetulan, kami ditanyai satu2 mau jadi apa. Ada yang ingin jadi dokter, pemadam kebakaran, polisi, tentara,dll. Saya sendiri sudah menyiapkan jawaban, yakni menjadi astronot. Hingga akhirnya ada salah satu teman saya yang menjawab, ‘’saya ingin jadi romo.’’ Riuh tepuk tangan bermunculan mulai dari pembimbing rekoleksi, guru, dan teman-teman saya. Dari sini, tergeraklah hati kompetitif saya, saya pun akhirnya mengubah jawaban saya. Sampai giliran saya, saya pun menjawab dengan lantang, ‘’saya ingin jadi uskup’’.

Pada akhirnya, jawaban sederhana yang tak pernah terpikirkan seperti itu mengubah hidup saya. Saya mulai aktif mengikuti misdinar, sedikit demi sedikit mulai mengenal kehidupan menggereja dan mengenal romo-romonya. Peran keluarga saya cukup besar dalam mengenalkan kegiatan hidup menggereja pada saya. Hingga di akhir masa SMP, saya memutuskan untuk masuk ke Seminari. Saya sudah mengenyam pendidikan di Seminari, terhitung dari Seminari Menengah sampai saat ini, sudah 9 tahun. 

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kok Keuskupan Purwokerto? Nahh... semuanya bermula ketika saya diajak oleh kakak kelas saya untuk live-in di Katedral Purwokerto. Jujur saja, Keuskupan Purwokerto adalah nama yang asing bagi saya yang hidup dan besar di keuskupan sebelah. Kemudian, dalam prosesnya saya berdinamika dan mengenal sedikit demi sedikit Keuskupan Purwokerto. Layaknya orang yang kasmaran, saya semakin penasaran dan rasa antusiasme untuk mengenal semakin tinggi. Rasa perasaan inilah yang pada akhirnya membuat saya memantapkan pilihan untuk Keuskupan Purwokerto. Meskipun sampai sekarang agak aneh saja rasanya... Kenapa Purwokerto?? But, i love this dioceseeee!!! Purwokerto telah menjadi tempatku untuk pulang.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana saya menghayati hidup panggilan ini? Tentu saya, rekan frater maupun imam lainnya menghidupi 3 nasihat injili, yakni kesucian, kemiskinan, dan ketaatan. Tentu masing2 mempunyai tantangannya tersendiri. Kesucian/kemurnian menuntut untuk mengembangkan hidup rohani dan hidup selibat. Ada guyonan yang mengatakan demikian, ‘’truk saja gandengan, masa kamu nggak?’’ Tapi, saya meyakini Tuhan selalu menggandeng saya dalam hidup ini. Kemiskinan menuntut untuk hidup sederhana, memang dalam proses pembinaan selama di Seminari, penggunaan alat elektronik seperti HP dibatasi. Namun, hal tersebut tidak menghambat daya kreatifitas, misalnya lebih fokus dalam mengembangkan bakat, entah itu bidang musik, teater, olahraga, intelektual. Ketaatan, kerendahan hati dan pengendalian diri. Jika tidak taat, hampir pasti nilai-nilai yang lain, baik itu kemiskinan dan kemurnian menjadi tidak tercapai.

What about lovee? Jatuh Cinta? Pasti pernah, mungkin berkali-kali wkwkwk. Sebagai manusia biasa dan seorang laki-laki, aku bersyukur merasakan jatuh cinta kepada seorang perempuan. Hal yang normal dan sangat manusiawi. Dalam keheningan doa dan permenungan, aku mendapati diriku bergumul dengan suatu perasaan yang tak disangka akan datang: aku jatuh cinta. Sebagai seorang frater, aku tahu bahwa jalan yang kupilih bukanlah jalan yang mudah. Jalan ini mengundangku untuk menyerahkan seluruh diriku demi Tuhan dan umat-Nya. Namun, kenyataannya, hatiku tetaplah hati manusia yang bisa merasakan ketertarikan, kekaguman, dan kasih.

Mungkin inilah salah satu cara Tuhan menyapaku secara pribadi. Dalam pengalaman jatuh cinta ini, aku mulai menyadari bahwa aku tidak kebal terhadap rasa. Aku tetap manusia yang rapuh dan bisa merindukan kedekatan yang personal. Tapi justru di situlah Tuhan mengajarkanku untuk lebih jujur pada diri sendiri. Aku belajar bahwa keinginan untuk mencintai dan dicintai bukanlah dosa, melainkan bagian dari kemanusiaanku yang diciptakan oleh-Nya.

Tuhan seperti berbisik di kedalaman hatiku: "Cinta ini bukan untuk ditekan, tapi untuk dipahami." Aku mulai bertanya apa arti cinta ini dalam panggilanku? Aku sadar, mungkin cinta ini tidak dimaksudkan untuk dimiliki, tetapi untuk melatih hatiku mencintai dengan cara yang lebih luas dan lebih murni. Cinta yang tidak berpusat pada 'aku dan kamu', tetapi pada 'aku dan mereka' umat yang dipercayakan padaku.

Aku juga merasa Tuhan sedang mendidikku untuk menyeimbangkan perasaan dengan komitmen. Bahwa panggilan hidup bakti bukan tentang tidak punya rasa, tetapi tentang bagaimana aku mengelola rasa itu dalam terang iman. Aku belajar mengarahkan perasaan ini bukan pada kepemilikan, tetapi pada pengorbanan dan keikhlasan.

Lewat pengalaman ini, aku mengenal diriku lebih dalam. Aku jadi tahu apa yang aku rindukan, apa yang membuatku merasa hidup, dan juga apa yang masih perlu aku serahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Di titik ini, aku diundang untuk berdoa bukan sekadar dengan kata-kata, tapi dengan seluruh pergolakan hatiku.

Tuhan tidak menjauh saat aku jatuh cinta. Sebaliknya, Ia semakin dekat. Ia hadir dalam kebingungan, dalam harapan, bahkan dalam air mata. Ia tidak langsung memberiku jawaban, tetapi Ia mengajakku berjalan bersama-Nya, agar aku tahu bahwa cinta sejati bukan soal memiliki, tetapi soal memberi. Bukan soal memenuhi keinginan diri, tetapi tentang melampaui diri.

Jika akhirnya aku harus melepaskan perasaan ini, bukan karena cinta itu salah, tetapi karena aku percaya ada cinta yang lebih besar yang menantiku: cinta kepada Tuhan dan kepada umat yang harus aku layani. Dan bila aku dapat mencintai mereka dengan hati yang tulus, mungkin cinta yang pernah hadir ini telah melatihku untuk mencintai lebih dalam, lebih bebas, dan lebih ilahi.

Letter from God

Anak-Ku yang terkasih,

Aku melihat hatimu yang gelisah. Aku tahu ada cinta yang tumbuh dalam hatimu, cinta yang indah namun juga membuatmu bimbang. Aku mengerti perasaanmu, karena Aku yang menciptakan cinta itu. Aku yang menanamkan kelembutan dalam jiwamu dan kerinduan untuk mengasihi serta dikasihi.

Namun, anak-Ku, Aku ingin engkau mengingat bahwa Aku telah lebih dahulu mencintaimu dengan kasih yang tak terbatas. Aku memanggilmu bukan untuk menghapus cinta dari hatimu, tetapi untuk mengarahkannya kepada sesuatu yang lebih besar—kepada kasih yang tidak terikat oleh batas manusia, kasih yang menyerupai kasih-Ku.

Jangan takut pada perasaanmu, tetapi bawalah semuanya kepada-Ku. Duduklah di hadapan-Ku dalam doa, biarkan Aku berbicara dalam keheningan hatimu. Jika cinta ini berasal dari-Ku, ia akan menguatkan panggilanmu, bukan melemahkannya. Jika itu ujian, biarlah engkau belajar untuk semakin menyerahkan dirimu kepada-Ku.

Aku tidak memaksamu, karena kasih sejati selalu lahir dari kebebasan. Aku hanya meminta satu hal: percayalah kepada-Ku. Aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian. Aku telah memilihmu, dan Aku akan selalu memelukmu dalam setiap pergulatan batinmu.

Kasihilah Aku lebih dari segalanya, dan engkau akan menemukan bahwa cinta yang sejati tidak pernah mengurung, tetapi membebaskan. Aku ada di sini, anak-Ku. Datanglah kepada-Ku, dan Aku akan menuntunmu dalam cinta yang sejati.

Okkk, asmaranya cukup sampai di sinii... nextttt

Kalau bosan?? pasti pernah....

Banyak suka dan duka yang saya alami selama menghidupi hidup panggilan ini. Saya mempunyai banyak rekan seperjalanan yang sangat membantu saya selama berproses, entah itu para romo maupun teman-teman frater. Mereka ini menjadi keluarga baru bagi saya. Mereka yang selalu mengingatkan, membantu, menemani, hingga mengisengi saya. Semua itu mewarnai perjalanan panggilan saya. Panggilan selalu mempunyai warnanya tersendiri. Tak jarang juga, perasaan rindu kepada keluarga ada dalam pikiran saya. Namun, semua itu teratasi dengan kebersamaan yang dibangun dalam komunitas Seminari. ‘’Alone but not lonely’’ menjadi kata yang pas untuk menggambarkan hal tersebut. Relasi yang romantis dengan Tuhan juga menjadi kunci kebahagiaan dalam menghidupi hidup panggilan ini.

Panggilan itu adalah hadiah dari Allah & inisiatif dari Tuhan. Tuhan yang memanggil dan manusia menjawab dengan penuh kebebasan. Seperti Yesus memanggil para murid-Nya, ‘’Mari ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan sebagai penjala manusia’’. Kita semua dipanggil-Nya untuk mengikuti-Nya. Tuhan menyentuh kita dengan cara yang khas. Bisa jadi dengan cara yang sederhana, spontan, dan lainnya. Menjadi apapun itu, tetap menjadi kudus itulah yang paling penting. Sebab mengusahakan kekudusan merupakan panggilan dasar kita sebagai seorang Kristani. Maka marilah kita setia pada jalan panggilan kita masing-masing.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

'' BKTH ''

Dalam Setiap Denyut Darahku, Ada Doa Papa dan Mama

Finding My Rebecca