Merangkul Ketidakberdayaan dengan Pengharapan
I. Pengantar
Saya bersama dengan dua teman saya yakni Fr. Henrikus SCJ & Fr. Kasmin menjalani live-in teologi harapan sebagai bagian dari perkuliahan program bakaloreat. Pengalaman live-in di RSU Palang Biru Gombong yang berlangsung dari tanggal 11-22 September 2024 sungguh menjadi pengalaman yang amat berharga bagi kami. Dalam proses live-in tersebut kami berjumpa dengan banyak pasien dari berbagai kalangan, agama, dan jenis penyakit yang diderita. Selain perjumpaan dengan para pasien, kami juga berjumpa dengan keluarga pasien, dokter, perawat, tim medis dan non medis, serta berbagai pihak yang bekerja dan melayani di rumah sakit tersebut. Melalui pengalaman ini kami dapat belajar untuk menjadi sahabat bagi mereka yang menderita, khususnya mereka yang tengah berjuang melawan rasa sakit.
Selain itu, pengalaman live-in tersebut juga menyisakan rasa yang sungguh mengesan di hati kami. Perasaan kasihan, haru, iba, simpati, sekaligus perasaan tak berdaya juga menyelimuti hati kami. Dari berbagai pasien yang kami jumpai, kami tertarik untuk melihat dan merefleksikan lebih jauh tentang pengalaman kami bersama para pasien stroke. Ketertarikan tersebut didasarkan pada pengalaman ketidakberdayaan, baik yang dialami oleh para pasien stroke maupun oleh kami ketika berhadapan dengan para pasien tersebut.
II. Merangkul Ketidakberdayaan dengan Pengharapan
Kami berjumpa dengan pasien stroke yang bernama Bu Hartini. Ibu Hartini ini tidak bisa berbuat apa-apa. Kami merasa prihatin dengan kondisi Ibu Hartini. Beliau hanya bisa berbaring dan sulit untuk memahami apa yang dikatakannya. Kami mencoba untuk menemani beberapa menit sembari mendengarkan beliau berbicara meski tidak amat jelas apa yang ingin dikatakan. Mungkin Bu Hartini ini perlu tempat untuk bercerita, sebab beliau terus-menerus mengajak kami mengobrol.
Jujur saja, dalam situasi yang seperti ini kami merasa sangat ingin membantu dan ingin agar Ibu Hartini bisa sembuh. Namun, karena keterbatasan kami, kami tidak bisa berbuat banyak. Terkadang, kami juga bingung harus berbuat apa. Timbul pikiran, “Apa gunanya kami di sini?” Tidak hanya pasien yang tak berdaya, kami pun juga merasa tak berdaya bila dihadapkan pada situasi seperti ini. Situasi ini menjadi pergulatan batin bagi kami. Beberapa kali setelah diberi pengobatan oleh para dokter atau perawat, kami berinisiatif untuk mencoba menemani Ibu Hartini tersebut, sembari mengajak mengobrol kecil-kecil. Kami ingat identitas kami di sini, yakni menjadi sahabat bagi yang sakit. Menjadi sahabat bagi yang sakit tentu ada banyak caranya, termasuk hal-hal yang kecil seperti menemani dan mengajak berkomunikasi, meskipun tidak banyak yang dibicarakan. Bagi kami inilah hal kecil yang dapat kami lakukan.
Ketika menemani Ibu Hartini, kami juga sempat berbagi kisah dengan suami yang saat itu menjaganya. Dalam kesempatan perbincangan tersebut, beliau bercerita tentang situasinya yang menjaga istrinya sendirian. Sebenarnya mereka memiliki empat orang anak, namun saat ini mereka telah berkeluarga, bekerja, dan menetap di tempat (kota) lain. Karena harus menjaga istrinya sendirian, maka beliau harus membagi waktu untuk mengatur kehidupan rumah tangganya, seperti mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan menyiapkan makanan. Bapak tersebut juga bercerita bahwa ia sudah tidak bisa bekerja secara normal karena usianya yang sudah tua. Sebelumnya beliau adalah seorang montir yang membuka usaha bengkel motor miliknya sendiri. Akan tetapi bengkel tersebut tidak lagi difungsikan beberapa tahun terakhir. Faktor usia adalah salah satu alasan dia menutup bengkelnya tersebut. Saat ini dia hanya berfokus untuk menggarap sawah yang mereka miliki. Hasil yang diperoleh dari sawah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Di usia senjanya tersebut, perihal menjaga istri di rumah sakit sekaligus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga bukanlah perkara yang mudah, butuh perjuangan yang ekstra. Akan tetapi, kami melihat bahwa bapak itu tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk pengobatan istrinya. Kisah perjuangan ini turut menyentuh hati kami. Namun, kami tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa mendengarkan, menemani, mendoakan, dan menyemangatinya. Kisah perjumpaan dengan keluarga pasien ini juga membuat kami merasa dekat dengan mereka. Bapak tersebut mengatakan, “Saya senang mas kalau ada yang temani, saya juga bosan duduk berjam-jam sendirian.” Kehadiran kami selain memberikan dukungan kepada pasien, ternyata juga memberikan semangat kepada keluarga yang sedang menghadapi situasi sulit.
Kehadiran kami untuk memberikan semangat dan dukungan kepada pasien dan keluarga tetap kami lakukan. Ada saat-saat tertentu kami datang untuk menemani dan menanyakan situasi yang dialami oleh pasien. Kedatangan kami selalu disambut ramah oleh keluarga. Bahkan, suami pasien tersebut mengisahkan dengan semangat perkembangan yang dialami oleh pasien. Ada sukacita ketika dia menceritakan perkembangan kesehatan yang dialami oleh istrinya (pasien). Keramahan yang ditunjukan oleh keluarga pasien membuat kami merasa nyaman ketika datang berkunjung. Kehadiran kami yang disambut baik oleh keluarga menandakan ada sukacita yang mereka alami. Kehadiran kami yang datang menemani dan berbagi kisah dengan mereka, sudah cukup memberikan sukacita dalam situasi sulit yang sedang mereka alami.
Selain kunjungan pribadi, kami juga memiliki kesempatan untuk datang dan mengunjungi para pasien bersama dengan tim pastoral care. Dalam kesempatan ini, kami juga mendoakan agar pasien tersebut dapat dikuatkan dan ditabahkan dalam menjalani perawatan. Berdoa merupakan salah satu tindakan kasih yang dapat kami tunjukkan kepada pasien. Kami yakin, tindakan doa tersebut memberikan sukacita dan juga harapan bagi pasien dan keluarganya. “Semoga ibu cepat sembuh ya”, kata-kata ini keluar dari mulut keluarga setelah kami mendoakan pasien. Bersama dengan keluarga, kami berharap agar pasien bisa mendapatkan kesehatan kembali. Kami juga berharap bahwa sedikit demi sedikit pasien dapat berbicara kembali. Hal ini memang terjadi ketika kami mengunjungi pasien tersebut. Perlahan-lahan pasien tersebut mulai mengeluarkan kata-kata walaupun masih sulit dipahami. Kemampuan pasien untuk mengungkapkan beberapa kata merupakan sebuah perkembangan yang patut disyukuri, sebab sebelumnya pasien hanya terdiam saja.
Selain mulai bisa mengucapkan kata-kata, ibu ini juga sudah mulai bisa menggerakkan beberapa anggota badannya, seperti kedua tangannya. Kemajuan yang dialami oleh pasien dalam masa perawatannya juga memberikan sukacita bagi kami. Ketika pasien mengalami perkembangan yang baik, harapan untuk sembuh itu selalu ada. Karena itu, kami selalu berusaha untuk memberikan kata-kata singkat yang juga bisa memberikan kekuatan kepada mereka. Beberapa kalimat yang kami ucapakan, misalnya: “Ibu kami doakan agar cepat pulih ya!” “Semoga perawatannya bisa berjalan dengan baik, Ibu harus tetap semangat ya! Kata-kata ini merupakan harapan dan perhatian yang dapat kami berikan dalam ketidakberdayaan kami.
Selain dengan kata-kata penyemangat, kami juga mencoba untuk menggerak-gerakan tangan pasien itu. Tindakan kecil ini juga merupakan bentuk perhatian kami terhadap sesama yang sedang mengalami penderitaan. Kehadiran kami untuk menemani, menguatkan, dan memberikan semangat kepada pasien dan keluarganya merupakan tindakan kecil yang dapat kami lakukan di dalam ketidakberdayaan kami. Akan tetapi, kami yakin kehadiran kami, dapat memberikan sukacita dan harapan bagi pasien yang sedang dalam proses perawatan dan bagi keluarga yang sedang menemaninya.
Yesus dalam pewartaannya juga berusaha untuk memberikan pelayanan kepada orang-orang yang dijumpainya. Dia menyembuhkan banyak orang sakit, memberikan makan kepada orang yang lapar, mengajar orang banyak, dan lain-lain. Tindakan Yesus dalam karya pelayanan-Nya terlalu sempurna untuk dapat kami lakukan. Kami hanya bisa melakukan tindakan kecil dan sederhana seperti hadir, menemani, mendoakan, dan memberikan semangat. Tindakan ini merupakan cara kami mengikuti dan meneladani tindakan Yesus yang selalu peduli dan memberi perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan belas kasih.
Selain perjumpaan dengan Ibu Hartini, kami juga berjumpa dengan pasien stroke lainnya yang akrab disapa Mbah Daryati. Usia beliau yang sudah tua (sekitar 75 tahun) membuat kondisinya semakin parah. Saat kami mengunjungi beliau di bangsal perawatan, kami melihat alat bantu oksigen telah terpasang di hidung dan selang infus di tangannya. Saat kami datang mengunjungi beliau, beliau hanya terbaring lemas di atas ranjang dan terlihat setengah sadar, ditemani oleh anak lelakinya. Sesekali ia ingin mengatakan sesuatu, namun perkataannya itu tidak bisa ditangkap dengan jelas karena lidahnya sudah kelu. Dari arah mulutnya yang pucat itu kami juga mencium bau yang tidak sedap, tanda bahwa kondisi mulutnya semakin parah.
Melihat kondisi tersebut kami sungguh merasa kasihan namun kami juga tidak bisa berbuat banyak selain menemani dan sesekali mengajak beliau berbicara. Kami juga melihat bahwa napas beliau terkadang tampak tersengal-sengal. Sekali lagi, kami merasa tidak berdaya. Kami hanya bisa memegang tangan beliau sembari berkata, “Yang kuat ya, Mbah.” Satu hal yang membuat kami semakin merasa kasihan adalah bahwa di tengah penderitaannya tersebut, tak ada satupun dari kami yang mampu memahami kata-kata yang diucapkan oleh Mbah Daryati. Padahal, dalam situasi dan kondisinya tersebut, ia sungguh butuh untuk didengarkan, diperhatikan, dan dipahami. Namun, karena bagian otaknya terserang stroke, maka ia tidak bisa mengucapkan satu kata pun dengan jelas. Dalam peristiwa ini kami benar-benar merasa tidak berdaya. Kami telah berusaha untuk memahaminya, namun tetap saja kami tak mampu memahami maksud dari perkataannya tersebut.
Menurut kesaksian anaknya, Mbah Daryati telah mengalami gejala stroke pada sore hari, tepatnya setelah Maghrib (12/9/2024). Sore itu Mbah Daryati sedang duduk di kamarnya. Saat hendak ke kamar mandi, ia merasa lemas dan tak mampu menggerakkan kakinya. Sontak, ia berteriak memanggil anaknya. Anaknya tersebut kemudian membopongnya ke kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, Mbah Daryati tetap merasa lemas. Suaranya juga terdengar semakin terbata-bata. Melihat hal ini, anaknya tersebut sudah curiga bahwa Mbah Daryati akan mengalami stroke. Ia kemudian membawa Mbah Daryati ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata Mbah Daryati mengalami hipertensi dan sudah terkena stroke yang mengharuskannya untuk dirawat inap.
Dalam kesempatan kunjungan tersebut, anaknya itu (seorang bapak berusia empat puluhan tahun) sempat bercerita bahwa ia masih kesusahan untuk mencari pekerjaan. Di tengah pergulatan pribadinya tersebut, bapak itu tetap memberi prioritas kepada ibunya yang sedang sakit. Sungguh, ini merupakan suatu cerminan bakti anak yang luar biasa kepada ibunya. Menyaksikan hal tersebut, kami merasa tersentuh akan prinsip hidup bapak tersebut. Di saat di luar sana banyak anak yang menelantarkan orang tua mereka dengan berkedok memasukkannya ke panti jompo, bapak tersebut tetap setia merawat ibunya, bahkan dalam situasi yang tidak mudah.
Tampaknya saat itu Tuhan mendengarkan harapan dan doa bapak tersebut. Saat bercerita bahwa beliau sedang kesusahan mencari pekerjaan, Sr. Vitalis, ADM yang saat itu juga berkunjung bersama kami, menawarkan pekerjaan untuk bapak tersebut. Kendati hanya ditawari untuk bekerja di bagian cleaning service, bapak tersebut tampak antusias mendengar tawaran tersebut. Melihat wajah bapak tersebut tampak bahagia, hati kami juga ikut berbahagia. Di tengah kesulitan hidup yang dihadapi, ternyata masih ada harapan yang menyegarkan. “Terima kasih, Tuhan. Engkau telah meringankan beban keluarga ini dengan membukakan pintu rezeki bagi bapak ini.”
Setelah beberapa saat berbincang-bincang, kami memutuskan untuk pamit undur diri. Sadar bahwa kami tidak bisa berbuat banyak, maka sebagai seorang religius kami memasrahkan Mbah Daryati kepada Tuhan dengan berdoa bagi kesembuhannya. Sebelum meninggalkan ruangan, salah satu di antara kami memegang kaki nenek itu dan mengatakan: “Cepat sembuh, ya Mbah.” Tiba-tiba Mbah Daryati menganggukkan kepalanya. Sontak, bapak yang menjaga nenek tersebut berkata, “Wah.. sekarang nyambung, Mas.” Padahal beberapa saat lalu, kami mencoba mengajak berbicara tetapi tidak ada respon dari nenek tersebut. Namun, ketika kami memberi semangat kepada beliau, Mbah Daryati menganggukkan kepala seolah mengamini harapan kami untuk kesembuhannya tersebut. Semoga kesembuhan itu benar-benar bisa dialami oleh Mbah Daryati.
III. Refleksi
Dua pengalaman perjumpaan dengan pasien stroke yakni Bu Hartini dan Mbah Daryati membuka horizon kami mengenai ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan merupakan keadaan yang membuat kami berhadapan dengan batas-batas manusiawi kami. Di tengah upaya kami untuk membantu, merawat, dan menolong orang lain, seringkali kami diingatkan bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan atau diperbaiki dengan kemampuan manusia. Begitu pula dengan pasien, ketidakberdayaan karena penyakit yang diderita membawa mereka ke dalam kesadaran, bahwa ada hal-hal yang melampaui kekuatan fisik dan mental mereka. Pada titik ini, kami sama-sama berada dalam ruang keheningan di mana keterbatasan diri dirasakan begitu nyata.
Ketidakberdayaan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah undangan untuk membuka diri pada kerendahan hati. Kerendahan hati ini bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang membuka hati untuk menerima bahwa tidak semuanya harus berada dalam kendali kita. Ketika semua upaya medis atau manusiawi terasa tidak berguna, iman menjadi sumber kekuatan yang menawarkan makna dan penghiburan dalam situasi sulit. Kami yang awalnya tidak berdaya, kemudian dibuat menjadi berdaya berkat tindakan iman yang kami perbuat yakni mendoakan, mengunjungi, memberikan dukungan, dan menemani. Bu Hartini dan Mbah Daryati yang awalnya juga tidak berdaya, dibuat menjadi berdaya karena didoakan, dikunjungi, didukung, serta ditemani. Pada akhirnya, pengalaman “menjadi sahabat” ini bukanlah tentang “menyelesaikan” masalah, melainkan tentang menyertai dan menghadirkan kasih Allah yang tidak terbatas dalam keterbatasan kami.



Komentar
Posting Komentar