SATU HATI, SATU PANGGILAN, SATU TRIBUN : ALEEEEE!!!

 SATU HATI, SATU PANGGILAN, SATU TRIBUN : ALEEEEE!!!

        Sebagai seorang frater yang sedang menapaki proses formatio menuju imamat, aku menyadari bahwa panggilan ini bukan sekadar sebuah profesi atau status rohani, melainkan sebuah perjalanan total untuk mencintai Tuhan dan melayani umat-Nya. Dalam perjalanan ini, aku pun tetap menjadi manusia biasa yang memiliki hobi dan ketertarikan, salah satunya adalah menonton sepak bola. Bahkan, aku adalah bagian dari komunitas suporter, Brigata Curva Sud, kelompok suporter fanatik dari PSS Sleman yang terkenal dengan militansi, kreativitas, dan semangat totalitasnya.

    Okkkk, Awalnya... aku merasa adanya ketegangan antara dua hal ini: antara keseriusan hidup di dalam tembok Seminari dengan semangat passion “gila bola”. Namun dalam permenungan yang jujur, aku justru menemukan makna spiritual dan nilai-nilai panggilan dalam pengalaman sebagai suporter.

1.⁠ ⁠Totalitas dan Loyalitas

    Sebagai seorang BCS, suporter beraliran ultras ala Italia, kami mempunyai semacam ideologi sendiri yakni diajarkan untuk mencintai tim tanpa syarat, “menang kalah tetap Sleman”. Semangat ini sangat selaras dengan panggilan imamat yang juga menuntut totalitas dan kesetiaan, bahkan di saat panggilan itu menjadi berat dan menantang. Ketika seorang imam sungguh mencintai Gereja dan umatnya dengan setia, ia menjadi “suporter Tuhan” yang tidak hanya mendukung saat Gereja sedang “menang”, tetapi juga ketika ada kerapuhan, konflik, atau krisis.


2.⁠ ⁠Komunitas dan Solidaritas

    Di tribun selatan, aku merasakan kebersamaan yang luar biasa. Kami bernyanyi bersama, berteriak bersama, bahkan menangis bersama. Tentu, ini mengingatkanku akan hidup komunitas dalam formasi. Dalam komunitas, aku diajak untuk belajar hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi demi yang lain, demi “tim” yang lebih besar. Seperti BCS yang tidak pernah menyebut nama pribadi saat mendukung, aku belajar bahwa panggilan imamat pun bukan soal “aku”, melainkan “kita”  umat Allah yang berjalan bersama menuju keselamatan.


3.⁠ ⁠Kreativitas untuk Misi

    Suporter seperti BCS dikenal dengan koreografi dan lagu-lagu kreatif. Hal ini menyadarkanku bahwa mewartakan Injil pun membutuhkan semangat serupa: kreatif, komunikatif, dan kontekstual. Dalam dunia modern, pewartaan yang datar dan monoton akan kehilangan daya pikat. Justru dengan membangun semangat seperti suporter yang antusias, penuh semangat, dan menyentuh emosi umat, seorang imam bisa menjadi pewarta yang hidup dan membumi.



4.⁠ ⁠Disiplin dan Pengorbanan

    Menjadi suporter bukan hanya soal datang ke stadion. Banyak dari kami rela menempuh perjalanan jauh, mengatur keuangan, dan bahkan ‘’berpuasa’’ dari hal-hal lain demi bisa hadir mendukung tim. Ini menjadi cermin bagiku: panggilan imamat pun menuntut pengorbanan, disiplin, dan kesiapsediaan untuk meninggalkan kenyamanan demi melayani yang lebih besar.



    At leasttt... Aku menyadari, menjadi frater bukan berarti meninggalkan hobiku, tetapi memperbaruinya/membaptisnya dengan semangat Injil. Aku percaya, Tuhan bisa berbicara bahkan lewat tribun sepak bola. Maka, harapanku adalah menjadi imam yang “suporteran”, imam yang setia mendukung umatnya, yang hadir dalam suka dan duka mereka, yang tak lelah bernyanyi dan bersuara untuk kebenaran, dan yang tidak pernah kehilangan semangat, meskipun kadang hasil pertandingan kehidupan tidak sesuai harapan.

Seperti di stadion, dalam hidup pun: “selalu ada pertandingan berikutnya, dan kita tetap harus hadir.”

#PSS SLEMAN ALEEE!!!

#BCS ORA MUNTIRRRR!!!!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

'' BKTH ''

Dalam Setiap Denyut Darahku, Ada Doa Papa dan Mama

Finding My Rebecca