ANOMALI IBU PERTIWI
Anomali Ibu Pertiwi
IS
Suatu kali Yesus pergi ke sebuah negeri nan jauh di Asia
Menjejak tanah yang kini kehilangan identitas leluhurnya
Ia membungkuk, menyentuh tanah.
Tanah itu masih hangat,
tetapi tidak lagi akrab.
Kata akamsi sini sih …
“Dulu hutan,”
sambil menunjuk jauh,
“sekarang sawit’’
Lebih rapi, lebih pasti, lebih cuan.”
Burung-burung rupanya tak paham ekonomi.
Mereka pergi tanpa pamit.
Tentu…
Sawit tak pernah salah,
Ia hanya tumbuh
sesuai perintah tangan-tangan yang menanamnya.
Yang aneh bukan pohonnya
melainkan hati yang merasa paling rasional
ketika hutan tinggal nostalgia.
Kemudian, Ia berjalan lagi,
Sementara di lorong sekolah yang retak
seorang anak menunduk,
menggenggam tas kosong seperti menggenggam harga diri yang koyak.
“Kenapa kau menangis?”
tanya-Nya pelan.
“Aku tak punya pena,”
jawab suara yang hampir tak terdengar,
“bahkan huruf-huruf ini
terlalu mahal
untuk keluarga kami.”
Dengan tatapan nanar,
Yesus berjalan lagi,
mencari hati
yang masih mau menjadi pena
bagi anak yang tak mampu membeli pena.
“Mungkin sudah saatnya,”
kata-Nya lagi,
“kalian berhenti menghitung untung
dan mulai menghitung air mata.”
Demikianlah Injil…..
Yang sering dibacakan
Namun abai untuk dihidupi.

Komentar
Posting Komentar